Mengenang Sosok Imam Kampung Pemuka

Bernama lengkap Sahibin, beliau lahir di Pemuka, yang kala itu masih berkedudukan di kecamatan Pasar Singkil. Beliau adalah sosok orang yang amat disegani oleh kebanyakan masyarakat kampung Pemuka kala itu.


Kebanyakan masyarakat kampung Pemuka, baik dari kalangan kaum tua, sampai kalangan kaum muda, yang kesemuanya menaruh hormat kepada beliau.

Bagaimana tidak, beliau adalah seorang tokoh pemuka agama yang diantaranya memiliki segudang ilmu disaat orang-orang tidak banyak yang memilikinya.

Maklum, masyarakat Pemuka saat itu minim akses pendidikan, sehingga tak mengherankan kalau banyak orang yang tidak tamat Sekolah Dasar, terdapat hanya sebagian kecil yang tamat Sekolah Dasar, dan sangat jarang pula yang tamat Sekolah Menengah Pertama, serta hampir tidak ada yang pernah menginjakkan kaki di Sekolah Menengah Atas.

Beliau juga begitu, ia sama sekali tak tamat Sekolah Dasar. Meski pun demikian, tak menyurutkan semangat beliau belajar ilmu agama.  Ayahandanya bernama Alang, yang juga merupakan tokoh agama pada masanya. Ayahnya itu pula belajar ilmu agama kepada kakek beliau. Dari sini jelas, bahwa beliau memang dari keturunan orang yang alim.

Dari ayahnya lah, beliau belajar ilmu-ilmu agama, selebihnya beliau dapat dari orang lain. Dengan memiliki tekat yang kuat, serta semangat belajar yang terus bersemayam dalam dirinya, beliau berhasil menjadi sosok orang yang istiqomah. Berkat ilmu-ilmu agama yang beliau miliki, beliau diangkat menjadi imam masyarakat kampung Pemuka kala itu.

Banyak orang yang berguru pada beliau, tak terkecuali kaum perempuan. Mulai dari mengaji batu, sampai mengambil tarekat.

Pada awal-awal abad ke 21, sebagian masyarakat kampung Pemuka yang kala itu bermukim di pinggiran sungai, migrasi ke dataran yang lebih tinggi.

Masyarakat kampung Pemuka terpecah menjadi beberapa bagian perkampungan, namun yang paling terlihat dominan penghuninya, di antaranya adalah mereka yang tinggal saat ini di kampung Pemuka, Suka Damai, dan Gosong Telaga Barat, selebihnya tersebar sampai ke Subulussalam sekarang.

Meski sudah pindah, dari kampung Pemuka lama ke kampung Suka Damai saat ini, beliau masih dipercaya sebagai imam masyarakat di kampung itu. Meskipun tak berlangsung sedikit lebih lama. Dan bahkan sampai saat beliau wafat pun, ia masih dipanggil dengan sebutan Imam. 

Gaya bicaranya yang lemah lembut, menjadikannya sosok yang amat dicintai banyak orang. Beliau juga sangat menghargai lawan bicaranya, ia tak akan memotong pembicaraan orang selagi masih berbicara. Baru setelah orang itu selesai berbicara, ia mulai berbicara dengan nada yang rendah.

Kalimat-kalimatnya penuh dengan kata-kata bijak. Nasehatnya pula seakan menjadi obat dan mampu meredam amarah seseorang.

Tak hanya memiliki ilmu akhirat, beliau juga memiliki keahlian dunia, salah satunya yang paling terkenal di kalangan masyarakat kampung Pemuka, Suka Damai, dan Gosong Telaga Barat, adalah keahliannya yang dapat mengobati orang yang keselek duri ikan.

Banyak orang yang ketika keselek duri ikan akan memintai tolong kepadanya. Bagi sebagian orang, akan merasa heran dengan cara mengobati beliau.

Bagaimana tidak, beliau hanya terlihat menggosok-gosok disekitaran betisnya, tiba-tiba saja orang yang keselek duri ikan itu sembuh dengan sendirinya tanpa beliau sentuh sedikit pun.

Selain itu juga, beliau dikenal sebagai sosok yang rendah hati, meski memiliki segudang ilmu agama, tak menjadikannya sosok yang angkuh dan sombong. Terbukti, saat orang-orang hendak belajar kepadanya, ia tak serta merta memperlihatkan kehebatannya. Pasti, ia mengaku hanya memiliki secuil ilmu.

Kamis, 12 Oktober 2022, beliau di panggil Allah. Semua orang merasa kehilangan atas kepergiannya untuk selama-lamanya. Meski ia sudah pergi, tetapi tidak dengan kenangan yang ia tinggalkan. Meski jasadnya terkubur, tapi tidak dengan ilmu yang ia ajarkan. Begitulah cara Allah memuliakannya.

Semua masyarakat seakan tidak percaya mendengar berita duka itu, ada pula yang tak menerima kepergiannya.

Bagaimana pun, beliau sudah dipanggil-Nya, hanya ucapan kalimat Istirja' sajalah sebagai penenang diri bagi yang ditinggal: Innalillahi Wa inna Ilaihi Raji'un, Innalillahi Wa inna Ilaihi Raji'un, Innalillahi Wa inna Ilaihi Raji'un: Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya lah kita semua dikembalikan.

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk". (al Baqarah/2:155-157).

Selamat jalan orangtua kami, guru kami, kerabat kami, sahabat kami, sosok inspirasi kami, semoga Allah SWT menempatkan engkau di sebaik-baik tempat, yakni syurga-Nya yang luas membentang, serta Allah jadikan pula kubur mu sebagai salah satu taman-taman syurga-Nya. 

Aamiin Ya Rabbal'alamiin.

Al-Fatihah

Posting Komentar untuk "Mengenang Sosok Imam Kampung Pemuka"